Home » , » Menyelamatkan Hutan Bakau Jakarta

Menyelamatkan Hutan Bakau Jakarta

Kawasan hutan mangrove di ibukota Jakarta sangat minim. Kini masih diancam pula dengan pembangunan di sekitar kawasan hutan mangrove di Jakarta Utara. Bagaimana kondisi hutan mangrove di utara Jakarta itu kini? Dan apa yang bisa dilakukan untuk menjaganya ?

Menahan abrasi

Beragam jenis burung itu bersautan dari Suaka Margasatwa Angke, Jakarta Utara. Itu bukanlah kebun binatang, melainkan setitik hutan yang tersisa di pinggir Teluk Jakarta. Suaka Margasatwa Angke adalah daerah konservasi hutan mangrove. Di sini hidup beberapa jenis satwa, khususnya monyet. Koordinator Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta Utara, Resijati Wasito.

Resijati: "Ada kera ekor panjang, biawak, ular-ular juga banyak, ular cincin emas disini juga banyak sekali"

Pelbagai satwa ini bisa hidup nyaman asalkan ada upaya melestarikan kawasan rawa-rawa hutan mangrove. Hutan itu juga menjadi tempat bertelur dan berkembang biak satwa laut, seperti udang, ikan dan kepiting. Tanaman mangrove terdiri dari sekitar tujuh jenis. Salah satunya bakau atau pidada, benteng pertahanan alamiah daratan Jakarta dari deburan ombak ganas di tepi pantai. Kembali Resijati Wasito.

Resijati: "Ini sebetulnya untuk menahan abrasi air laut, menyaring limbah atau timbal juga bisa. Jadi dia menetralisir air supaya menahan instrusi air laut ke daratan"

Ancaman serius

Namun, dari tahun ke tahun kawasan hutan mangrove di pesisir utara Jakarta makin berkurang. Jika pada 1977 ada 1000 hektar lebih kawasan mangrove, kini hanya tersisa 200an hektar. Itu pun terus terancam. Direktur Wahana Lingkungan Hidup, Walhi Jakarta, Slamet Daroyni. Slamet Daroyni: "Prediksi, dampak pemanasan global, kemudian laju pembangunan yang tidak berperspektif lingkungan. Sejak tahun 1990 sebenarnya sudah diingatkan, bahwa ini akan menjadi ancaman lebih serius dan lebih massif bencana ekologi yang ditimbulkan. Pemerintah bukan memperbaiki rawa dan mangrove tapi malah memangkas. Dengan bukti proyek reklamasi pantai utara Jakarta"

Kawasan mangrove di pesisir utara Jakarta kini, dalam tanda petik, dihiasi hutan beton beragam bangunan mewah. Ada perumahan, lapangan golf, rumah sakit dan berbagai bangunan mewah lain yang terus mengusik kawasan itu. Mangrove Jakarta juga menghadapi gempuran limbah sampah yang dibawa aliran sungai Angke.

Mematikan tanaman

Karena sampah-sampah itu, sungai Angke di samping Suaka Margasatwa mengalami pendangkalan.
Hendra: "Jika 20 tahun lalu dalam sungai mencapai delapan meter, kini dalam sungai hanya tiga meter saja. Di bawah air, sungai kini ditimbuni sampah yang dalamnya lebih dari tiga meter"

Limbah membuat air sungai Angke berwarna coklat kehitam-hitaman dengan bau menyengat. Aktivis lingkungan Edi Sutrisno. "Akar bakau ada yang namanya akar pasak yang muncul ke permukaan tanah, menyearp unsur hara dan menyerap pernafasan. Ketika kali Angke pasang, sampah masuk ke kawasan. Ketika surut sampah akan menutupi akar. Ini menghambat fungsi akar sebagai pernafasan"

Keadaan ini menurunkan kualitas tanaman hutan, bahkan bisa mematikan tanaman. Edi Sutrisno: "Tampilan mangrove sudah jauh dari bagus. Kalau di Angke itukan mayoritas ditanam, bukan asli tumbuh. Kita lihat bagaimana tampilan fisik. Hanya tinggi saja, diameter batangnya kelihatan langsing. Unsur hara sangat kecil"

Upaya pengelola menyelamatkan sisa hutan mangrove jadi lebih berat. Untuk menyingkirkan sampah, pengelola kerap meminta bantuan para aktivis lingkungan. Koordinator Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta Utara, Resijati Wasito. Resijati: "Kita berusaha agar sampah-sampah tidak masuk dan tidak mengganggu kawasan ini. Kalau sampah tutupi bakau akan menimbulkan kematian tanaman"

0 comments:

Post a Comment